Selasa, Januari 15, 2013
0


Apa itu adil? Bagaimana caranya menafsirkan keadilan? Saya punya ilustrasi singkat. Ilustrasi ini adalah cerita saya dan adik-adik saya saat kecil.

Waktu itu saya masih SD, Rambang muda setahun dari saya. Adik saya Trio belum masuk sekolah. Saat hendak makan malam Bapak memanggil kami untuk makan malam. Kebetulan Bapak lagi ada rezeki, jadi kami makan dengan lauk ayam. Biasanya kami kalau melihat ada lauk daging pasti selalu rebutan. Tak jarang berujung perkelahian dan yang paling kecil pasti selalu menangis. Mengantisipasi itu, Bapak meminta kami memegang piring kami masing-masing. Saya, Rambang, dan Trio begitu bersemangat mengharapkan paha ayam yang lezat itu. Lalu bapak membagikan lauk ayam itu mulai dari yang tua, yaitu saya. Beruntung saya mendapat paha ayam. Lalu Rambang mendapat dada dan sayapnya karena Rambang dulu suka sayap ayam. Terakhir Trio. Karena Trio suka kaki ayam jadi Bapak hanya memberi dia kaki ayam sepotong.  Diperlakukan seperti itu, Trio protes, “Pak, kok Iyo cuman dapat kaki ayam jak?” tanyanya polos. Lalu Bapak menjawab,”Badanmukan kecil. Perutmu tidak sebesar abang-abangmu. Cukuplah kaki ayam itu, lagipun kau suka kaki ayam.” Saya dan Rambang tertawa melihat itu. Kami puas. (Tenang saja, Bapak tidak sampai hati hanya memberi Trio kaki ayam.)

Pernah mendengar atau membaca kisah Raja Salomo dan kedua orang ibu yang rebutan bayi? Kitab Suci perjanjian lama menceritakan bagaimana Raja Salomo yang bijaksana mengambil keputusan yang adil. Raja Salomo menjunjung rasa kemanusiaan ketika melihat ibu kandung si bayi menangis meminta anaknya tidak dibunuh dan dibelah dengan merelakan si bayi dimiliki si ibu yang jahat itu. Ibu itu lebih rela dipancung demi anaknya. Dari situ Raja Salomo mengetahui siapa ibu kandung dari si bayi yang diperebutkan ini. Akhirnya, si ibu jahatlah yang dihukum pancung. 

Berdasarkan ilustrasi di atas, bisa tidak kita menangkap arti dari keadilan? Saya jawab iya, bisa. Saya pernah mendengar pernyataan bahwa adil itu adalah bagaimana memberi, memperlakukan sesuatu atau orang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Berdasarkan ilustrasi di atas apakah Bapak saya bisa dikatakan adil, menurut saya iya kalau takarannya perut dan badan. Apakah Raja Salomo adil? Jawabannya tentu saja iya, adil, meskipun harus mengancam hendak membelah si bayi yang tak berdosa itu menjadi dua.

Lantas bagaimana dengan keadilan dalam hukum, apakah hukum di Indonesia benar-benar sudah adil? Apakah hukum di Indonesia benar-benar sudah diterapkan secara adil?

Beberapa waktu lalu diberitakan bahwa ada seorang remaja yang di tuntut penjara selama 5 tahun gara-gara mencuri sepasang sandal di Palu. Ada juga kisah seorang anak kecil yang disiksa dan dipenjara karena dituduh telah mencuri sandal seorang oknum polisi. Lalu ada juga kisah seorang nenek yang dipanjara karena mencuri kakao. Nenek itu mencuri karena lapar. Pernah juga kita mendengar bahwa maling ayam yang ketahuan lalu dihakimi masa dan kemudian dibakar hidup-hidup.

Sekarang mari kita melihat orang-orang berduit yang terbelit hukum karena kasus korupsi bermilyar-milyar. Gayus yang pegawai pajak itu bahkan masih sempat plesiran keluar negeri padahal dirinya sedang dalam proses hukum. Dan kasus terakhir yang ingin saya bahas adalah Angelina Sondakh seorang putri Indonesia dan seorang anggota DPR RI farksi partai yang berkuasa saat ini.

Angie begitu panggilannya dikaruniai wajah cantik, bakat, pintar dan juga adalah seorang artis yang juga politisi. Sebelumnya Angie adalah seorang Kristiani namun dia pindah keyakinan ketika menikahi alm. Ajie Massaid.

Singkat cerita Angie bermasalah dengan kasus korupsi. Dia dinyatakan terlibat dalam aliran dana kasus Hambalang dan diduga menerima uang sebesar 30 M Rupiah. Seperti yang diketahui kasus Hambalang ini menyeret beberapa nama besar seperti mantan Menpora Andi Malarangeng. Setelah selama setahun kasus ini diproses, akhirnya Angie divonis 4,5 tahun penjara. Jauh dari tuntutan 12 tahun penjara. Sekarang pertanyaannya, ADIL-kah vonis itu? 

Hati nurani saya mengatakan vonis itu merongrong rasa keadilan dan memberangus semangat nasionalisme dalam pemberantasan korupsi. Lalu saya bertanya-tanya, apakah Angie divonis rendah karena sering menangis? Atau karena dia masih muda, janda dan cantik? Atau karena hakim merasa kasihan karena Angie selalu curhat tentang anaknya? Lalu bagaimana dengan pencuri sandal yang dipenjara 5 tahun? Maling ayam yang dibakar hidup-hidup? Seorang nenek yang dipenjara sebab mencuri kakao karena lapar? Adilkah?

Di twitter, akun Farhat Abbas menyoroti vonis Angie dengan tweet kontroversinya yang membandingkan vonis Ariel Noah dan Angie.

Beberapa waktu lalu Ariel dihukum 4 tahun penjara karena bugil, zinah dan bokep, Angelina Sondakh korupsi 30 milyar lebih divonis 4,5 tahun, ariel sama dg koruptor juga!

Saya agak sepaham dengan pernyataan Farhat. Apakah seorang pencuri sandal yang harganya puluhan ribu Rupiah pantas disamakan hukumannya dengan seorang koruptor yang mencuri uang Negara puluhan milyar Rupiah? Jadi dalam logika sederhana pencuri sandal disamakan dengan seorang koruptor. Lalu saya berpikir di negeri yang ramah elok loh jinawi ini, lebih baik kita korupsi uang puluhan milyar daripada mencuri sandal yang puluhan ribu. Adil?

Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali. Ketidakadilan hukum di indonesia akan berjalan apabila pihak penegak hukum menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, dan memberikan hukuman yang sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya baik dari kalangan bawah maupun dari kalangan atas dengan tegas. Kita harus ingat, hukum harus memunyai prinsip keadilan. Sekarang mari kita berdoa untuk keadilan hukum di Indonesia. Seperti kaki ayam milik adik saya Trio.

(NB: sebutan kaki ayam itu murni sebutan nostalgia karena itu sebutan kami dulu untuk menyebut ceker ayam.)

0 komentar:

Poskan Komentar